Banda Aceh – Serambi Mekkah kembali mengukir sejarah. Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi Ke-II Tahun 2026 yang digelar 9 s.d 11 Oktober 2026 di Provinsi Aceh menjadi momentum besar untuk memperkuat persatuan dan perdamaian umat.
Warisan Aceh untuk Dunia
Bagi Aceh, muzakarah ini bukan sekadar agenda seremonial. Seperti disampaikan Penasehat Panitia Abu Syukri Daud Pango, Aceh memiliki sejarah panjang tasawuf dengan lahirnya tokoh-tokoh besar seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, dan Abdurrauf as-Singkili.
Harapannya, ajaran sufi kembali berkembang di bumi Aceh sebagaimana masa kejayaan Kesultanan. _”Puncaknya terjadi persatuan dan puncaknya terjadi perdamaian,” demikian pesan yang dibawa.
Acara akbar yang menghadirkan ulama tasawuf dan sufi lintas negara ini dihadiri utusan dari 13 negara yang telah mengirimkan ulama terbaik mereka, bahkan data terbaru panitia menyebut mencapai 21 negara, di antaranya Turki, Maroko, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, Arab Saudi, Suriah, Mesir, Palestina, Iran, Kamboja, Uzbekistan, dan lainnya.
Dibuka Resmi di Komplek PKA
Muzakarah resmi dibuka pada Jumat malam, 9 Oktober 2026 di Kompleks Pekan Kebudayaan Aceh (PKA), Lapangan Blang Padang, Banda Aceh. Mengusung tema l, “Mengangkat Ajaran Sufi Untuk Persatuan dan Perdamaian Umat”, kegiatan akan berlangsung hingga 11 Oktober 2026.
Pembukaan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh qariah internasional, Juara MTQ Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) 2016 yang digelar di Malaysia.
Sementara di Balai Meuseuraya Aceh (BMA) menjadi forum keilmuan tertutup bagi para ulama pada 10-11 Oktober 2026. Jumlah peserta diperkirakan mencapai 5.000 hingga 10.000 orang.
100 Maktab, 15 Ribu Jamaah
Di balik megahnya pembukaan, ada kerja besar panitia bidang Maktab yang menjadi jantung pelayanan jamaah.
Ketua Panitia Bidang Maktab, Azhari, SKM MM menyampaikan data terkini, “Jumlah maktab lebih dari 100 titik. Jumlah jamaah yang hadir mendekati 15 ribu, ini terdiri dari berbagai daerah baik luar dan dalam negeri,” ujarnya.
Menurut Azhari, titik kumpul paling banyak berada di Pango Raya yang hampir mendekati 3.000 jamaah. Ini sesuai dengan anjuran Ketua PW MPTT-I Aceh, Tgk H Kamaruzzaman MM, selaku Ketua II Panitia Pelaksana. Beliau mengatakan, maksimalkan maktab yang ada di Gampong Pango Raya.
Azhari merinci, di Balee Abi Pango 500 jamaah, SD 14 Pango Raya 400 jamaah, dan selebihnya tersebar di berbagai tempat seperti Sekolah Tahfiz Cendekia mulai dari TK, SD, SMP dan rumah-rumah warga di Pango Raya.
Disebutkan juga kantung penempatan peserta terkonsentrasi di Dayah Al-Ikhlas Beurawe pimpinan Tgk. Habibon dengan kapasitas 500 jamaah. Juga di Dayah Abi Yusri Bitay mencapai 400 jamaah.
Sedangkan pemondokan terbesar adalah di Asrama Haji dan Panti Asuhan Nirmala. Maktab-maktab lain tersebar di berbagai daerah baik di Banda Aceh maupun Aceh Besar.
Dengan 100 lebih maktab yang aktif, puluhan ribu jamaah yang memadati Banda Aceh, dan ulama dari 13 hingga 21 negara yang berkumpul, Muzakarah II Tahun 2026 ini benar-benar menjadi bukti bahwa dari Serambi Mekkah, pesan persatuan umat Islam dunia kembali digaungkan.
”Atas nama panitia, terkhusus dari bidang Maktab, kami mengucapkan ribuan terima kasih atas dukungan warga masyarakat sehingga acara yang mulia ini sukses terlaksana,” kata Azhari.
“Kami tidak lupa juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan jamaah atas pelayanan yang kami berikan karena kami yakin ini masih sangat jauh dari kesempurnaan,” pungkasnya. (SON)























