PERTEMUAN
Ketika Menyaksikan Didong
Puisi
L K Ara
Malam itu,
di antara suara dan tepuk tangan,
Didong mempertemukan kami,
bukan sekadar dalam sebuah pertunjukan,
melainkan dalam ingatan
yang diwariskan dari zaman ke zaman.
Di wajah-wajah yang tersenyum,
ada bahasa leluhur yang tak lekang,
ada petuah yang tak selesai diucapkan,
ada Gayo yang tetap berdiri
meski waktu terus berjalan
meninggalkan jejak di belakang.
Aku memandang Didong,
seperti memandang diriku sendiri—
sebuah perjalanan panjang
dari kata menuju makna,
dari masa silam menuju hari esok,
dari tanah kelahiran menuju dunia.
Ya Allah,
jika pertemuan adalah sebuah rahmat,
jadikanlah malam ini saksi:
bahwa selama Didong masih bernapas,
selama syair masih dilantunkan,
Gayo tak kehilangan jiwanya,
dan leluhur tak benar-benar pergi.
Banda Aceh, 10 Oktober 2026
















