Sepasang Toga dari Jantung Darussalam

Opini, Pendidikan13 Dilihat

Profil Cut Sitti Kamila
Wisudawati UIN Ar-Raniry dan USK Tahun 2026

Oleh: NA. Riya Ison

Di bawah langit Kopelma Darussalam, Banda Aceh, sehelai kain hitam yang membalut tubuh Cut Sitti Kamila Muslim pada hari Selasa, 6 Oktober 2026, menjelma menjadi simbol dari sebuah pembuktian.

Hari itu, di tengah kemegahan Auditorium Prof Ali Hasjmy, ia tidak hanya berdiri sebagai seorang wisudawati, melainkan sebagai penakluk dari salah satu tantangan akademik paling ambisius yang pernah dicoba oleh seorang mahasiswi.

Gadis kelahiran 8 November 2003 ini menuntaskan dua perjalanan studi sarjana yang sangat berbeda kutub secara bersamaan.

Di satu sisi, ia mendalami ketatnya literatur hukum normatif sebagai mahasiswi Hukum Ekonomi Syariah (HES) di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry.

Pada sisi lain, ia harus menyelami dinamika sosial yang cair dan ekspresif sebagai mahasiswi Ilmu Komunikasi di Universitas Syiah Kuala (USK).

Memikul beban dari dua kiblat keilmuan ini tentu bukan hal yang mudah, namun Kamila berhasil merengkuh keduanya dengan torehan prestasi yang mencengangkan: IPK 3,80 dari UIN Ar-Raniry dan IPK 3,78 dari USK.

Berkat raihan luar biasa tersebut, dari total 1.618 wisudawan, Kamila didapuk berdiri di atas podium utama untuk menyampaikan pesan dan kesan mewakili rekan-rekan sejawatnya.

Awal Mula Sebuah Impian Nekat

Kilas balik perjalanan ini bermula pada tahun 2021. Saat itu, hasil Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) untuk universitas negeri umum dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) diumumkan hanya berselang dua hari.

Nama Kamila dinyatakan lolos di kedua jalur tersebut. Menghadapi situasi ini, pihak keluarga – terutama sang ayah, Dr. Muslim Djuned, M.Ag., dan ibundanya, Sitti Zahrah, S.Ag. sempat menyarankannya untuk fokus pada satu jalur saja, yaitu Program Studi Syariah.

Kekhawatiran orang tua sangat mendasar; menjalani satu perkuliahan saja sudah cukup menyita energi, apalagi dua sekaligus.

Namun, anak bungsu dari tiga bersaudara ini memiliki pandangan lain. Di matanya, hukum ekonomi syariah dan ilmu komunikasi adalah dua instrumen yang saling melengkapi di era modern.

“Orang tua akhirnya memberikan kebebasan penuh kepada saya untuk mengambil dua pendidikan sekaligus, selama saya benar-benar merasa mampu,” kenang Kamila.

Restu penuh itulah yang menjadi modal awal baginya untuk melangkah masuk ke dalam pusaran jadwal yang rumit.

Seni Mengelola Waktu di Dua Dunia

Sejak semester pertama, kehidupan Kamila bertransformasi menjadi kalkulasi manajemen waktu yang presisi.

Tantangan terbesar muncul ketika jadwal kelas dari kedua kampus saling bertabrakan.

Demi menyiasatinya, Kamila harus aktif membangun komunikasi yang intensif dengan staf program studi, memaksimalkan perubahan rencana studi (PKRS), hingga melakukan negosiasi personal dengan para dosen agar diizinkan berpindah ke kelas paralel.

Semua langkah ini dirancang secara matang sejak awal. Perencanaan studi yang visioner ini sengaja dipersiapkan agar ruang untuk mengeksplorasi program magang, organisasi, dan pertukaran mahasiswa tetap terbuka lebar.

Kendati demikian, realitas di lapangan kerap kali menguji ketahanan mental dan fisiknya hingga ke titik nadir.

Momen paling berat selalu terjadi saat pekan Ujian Akhir Semester (UAS) tiba. Ketika jadwal ujian di kedua kampus jatuh pada jam yang berdekatan, Kamila harus berlari sekuat tenaga dari asrama Ma’had UIN Ar-Raniry melintasi perbatasan kampus menuju USK, sebuah rutinitas melelahkan yang ia lakoni berkali-kali dalam sehari.

Tekanan fisik dan psikologis yang konstan itu akhirnya berujung tumbang. Tubuhnya sempat mengalami kelelahan ekstrem hingga mengharuskannya menjalani rawat inap di rumah sakit pasca-UAS.

Bahkan, drama kehidupan akademik ini mencapai puncaknya tepat sehari sebelum prosesi yudisium, di mana ia terpaksa dilarikan ke ruang perawatan intensif. “Tentu saja, ada fase di mana rasanya ingin menyerah saja,” akunya jujur mengingat masa-masa kritis tersebut.

Menembus Batas ke Kancah Internasional

Hebatnya, di tengah keterbatasan waktu yang luar biasa itu, Kamila menolak untuk menjadi mahasiswa yang sekadar duduk di dalam ruang kelas.

Di usia yang baru menginjak 18 tahun, ia lolos dalam program nasional Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) 2 ke Telkom University di Bandung, dan menyelesaikan program tersebut dengan IPK 3,83.

Tidak berhenti di lingkup domestik, ia juga mengepakkan sayapnya ke tingkat regional dengan mengikuti ajang prestisius FASStrack Asia Summer School 2026 yang diselenggarakan oleh National University of Singapore (NUS).

Di universitas terbaik Asia tersebut, ia mengukir prestasi gemilang dengan meraih IPK sempurna 4,00.

Portofolio non-akademiknya pun tidak kalah mentereng. Kamila mendedikasikan energinya secara sosial melalui lembaga Aceh Youth Action sebagai mitra edukasi kesehatan mental anak.

Ia juga berhasil lolos dalam program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) Angkatan 6 di Badan Restorasi Gambut dan Mangrove Republik Indonesia (BRGM RI).

Di samping itu, guna membuka celah lebar menuju jendela pergaulan global, ia secara mandiri meluangkan waktu untuk menguasai bahasa Korea di sela-sela kesibukannya yang padat.

Kini, riuh tepuk tangan di Auditorium Prof. Ali Hasjmy telah usai, namun langkah kaki Cut Sitti Kamila Muslim justru baru saja dimulai.

Sembari menjalani program Magang Hub dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) di bagian Humas USK, tatapan matanya telah lurus memandang jauh ke depan, mempersiapkan lembar rencana berikutnya untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Dua ijazah dan sepasang toga yang kini disimpannya bukan lagi sekadar bukti kelulusan hitam di atas putih, melainkan sebuah prasasti hidup yang menegaskan bahwa batasan manusia sering kali hanya berada di dalam pikiran mereka sendiri.

Di atas podium wisuda yang sakral itu, ia telah meninggalkan sebait pesan penutup yang akan terus bergema di hati ribuan wisudawan lainnya: “We fell, we doubted ourselves, we took different paths, but somehow, we made it.”

Sebuah refleksi mendalam bahwa setiap jiwa pernah terjatuh, pernah meragukan kapasitas diri, dan sering kali dipaksa menempuh jalan sunyi yang berbeda; namun pada akhirnya, keteguhan hatilah yang menuntun mereka menembus garis finis, mengubah setiap titik akhir menjadi sebuah gerbang baru yang megah untuk menaklukkan dunia.(NS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *